Showing posts with label Guru Menulis. Show all posts
Showing posts with label Guru Menulis. Show all posts

Wednesday, April 26, 2023

Guru dan Chat GPT: Menemukan Keseimbangan Antara Teknologi dan Pengajaran

Di era digital yang semakin maju seperti sekarang, teknologi semakin mendominasi kehidupan kita. Hal ini termasuk juga dalam dunia pendidikan. Meskipun teknologi memberikan banyak manfaat bagi pengajaran, tetapi seringkali teknologi dapat mengambil alih peran guru dalam proses pembelajaran. Namun, sekarang ini ada solusi yang menarik untuk mengatasi hal ini, yaitu penggunaan Chat GPT sebagai asisten guru.

 

Chat GPT adalah sebuah program komputer yang dilatih dengan ribuan bahasa manusia dan dapat merespons percakapan seperti manusia. Chat GPT memungkinkan guru untuk menghemat waktu dan tenaga dalam menjawab pertanyaan siswa, dan pada saat yang sama meningkatkan efektivitas pengajaran. Seorang guru yang menggunakan Chat GPT dapat memberikan jawaban secara instan kepada siswa dengan memasukkan pertanyaan ke dalam sistem chat. Hal ini juga dapat memungkinkan guru untuk lebih fokus pada pembelajaran di kelas, sementara Chat GPT dapat merespons pertanyaan siswa secara real-time.

 

Namun, penggunaan Chat GPT dalam pendidikan juga memiliki tantangan. Meskipun Chat GPT dapat memberikan jawaban instan dan akurat, namun ia tidak dapat memberikan pemahaman dan interaksi manusia yang sama seperti seorang guru. Seorang guru yang berpengalaman memiliki kemampuan untuk membimbing siswa dengan cara yang lebih mendalam dan menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan siswa secara individual. Hal ini memungkinkan siswa untuk belajar dengan cara yang lebih efektif dan lebih personal.

 

Oleh karena itu, keseimbangan antara penggunaan teknologi dan kehadiran seorang guru sangat penting. Seorang guru harus tetap hadir dan terlibat dalam proses pembelajaran, sementara Chat GPT dapat memberikan bantuan dalam menjawab pertanyaan siswa dan membebaskan waktu guru untuk lebih fokus pada pengajaran.

 

Selain itu, Chat GPT juga dapat membantu guru untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Chat GPT dapat memberikan analisis data tentang kemajuan siswa dan memberikan informasi tentang area yang perlu ditingkatkan dalam pembelajaran. Hal ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan siswa secara individual dan mengoptimalkan pembelajaran.

 

Secara keseluruhan, penggunaan Chat GPT sebagai asisten guru dapat membantu meningkatkan efektivitas pengajaran dan memberikan manfaat yang signifikan bagi siswa dan guru. Namun, keseimbangan antara teknologi dan kehadiran seorang guru sangat penting untuk memastikan bahwa siswa mendapatkan pengajaran yang efektif dan bermakna. Jadi, mari kita terus mengembangkan dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses pendidikan, sambil tetap mempertahankan peran penting guru dalam membimbing siswa menuju kesuksesan.



Artikel ini dibuat bersama dengan chat gpt

Guru Harus Bisa Menulis

 Guru adalah sosok yang memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda menjadi lebih baik dan memiliki pengetahuan yang luas. Namun, selain sebagai pendidik, seorang guru juga seharusnya bisa menulis. Menulis adalah keterampilan yang sangat penting bagi para guru, karena hal ini dapat membantu mereka dalam mengkomunikasikan gagasan dan ide-ide yang mereka miliki dengan lebih efektif. Di bawah ini, akan dijelaskan mengapa seorang guru harus bisa menulis.

 

Pertama, menulis adalah cara yang efektif untuk berbagi pengetahuan. Seorang guru harus mampu menuliskan pengetahuannya dalam bentuk buku atau artikel untuk dapat dibagikan pada para siswanya. Hal ini akan sangat membantu siswa untuk belajar dengan lebih mudah dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Selain itu, menulis juga dapat membantu guru untuk menghasilkan ide-ide baru yang dapat diterapkan pada pembelajaran di kelas.

 

Kedua, menulis dapat membantu guru dalam memperbaiki keterampilan komunikasi mereka. Seorang guru yang mampu menulis dengan baik akan lebih mudah untuk mengomunikasikan ide-ide dan gagasannya kepada siswa dan orang lain dengan lebih jelas dan efektif. Hal ini juga dapat membantu guru dalam memperbaiki presentasi mereka di depan kelas, karena mereka sudah terbiasa menyusun dan mengorganisasi ide-ide mereka dengan baik.

 

Ketiga, menulis dapat membantu guru dalam mengembangkan karir mereka. Seorang guru yang mampu menulis dengan baik dapat menjadi kontributor untuk jurnal atau majalah pendidikan, dan dapat mempublikasikan karyanya dalam bentuk buku. Hal ini akan memberikan pengakuan dan reputasi yang baik bagi guru tersebut, serta membuka peluang untuk pengembangan karir mereka.

 

Keempat, menulis dapat membantu guru dalam mengatasi tantangan dalam mengajar. Menulis dapat membantu guru untuk mengidentifikasi masalah dan menemukan solusi untuk masalah-masalah tersebut. Hal ini akan membantu guru untuk memperbaiki keterampilan mengajar mereka, dan memberikan dampak yang positif pada kemajuan siswa.

 

Kelima, menulis dapat membantu guru dalam memperluas jangkauan pengaruh mereka. Seorang guru yang mampu menulis dengan baik dapat menghasilkan karya yang dapat dibaca oleh orang-orang di seluruh dunia. Hal ini akan memberikan pengaruh yang lebih besar bagi guru tersebut dan membuka kesempatan untuk membantu lebih banyak orang.

 

Dalam kesimpulannya, seorang guru harus bisa menulis. Menulis adalah keterampilan penting yang dapat membantu guru untuk berbagi pengetahuan, memperbaiki keterampilan komunikasi, mengembangkan karir, mengatasi tantangan dalam mengajar, dan memperluas jangkauan pengaruh mereka. Oleh karena itu, para guru harus terus berlatih dan meningkatkan kemampuan menulis mereka untuk menjadi guru yang lebih baik.


artikel ini dibuat bersama dengan chat gpt

Monday, January 11, 2021

Bagaimana Hasil AKM dilaporkan?

 

AKM atau asesmen kompetensi minimum digunakan untuk penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat.

Lalu, bagaimana hasil AKM dilaporkan?

Dikutip dari buku AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran dari Pusat Asesmen dan Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hasil AKM dilaporkan dalam empat kelompok yang menggambarkan tingkat kompetensi yang berbeda. Urutan tingkat kompetensi dari yang paling kurang adalah:

      1)      Perlu Intervensi Khusus,

      2)     Dasar,

      3)     Cakap,  

      4)     Mahir.

Penjelasan

Tingkat Kompetensi Literasi Membaca

      1)      Perlu Intervensi Khusus

    Murid belum mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks ataupun membuat interpretasi sederhana.

      2)     Dasar 

   Murid mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks serta membuat interpretasi sederhana.

       3)     Cakap 

    Murid mampu membuat interpretasi dari informasi implisit yang ada dalam teks; mampu membuat simpulan dari hasil integrasi beberapa informasi dalam suatu teks.

       4)     Mahir 

    Murid mampu mengintegrasikan beberapa informasi lintas teks; mengevaluasi isi, kualitas, cara penulisan suatu teks, dan bersikap reflektif terhadap isi teks.

Tingkat Kompetensi Literasi Numerasi

       1)      Perlu Intervensi Khusus

Murid hanya memiliki pengetahuan matematika yang terbatas. Murid menunjukkan penguasaan konsep yang parsial dan keterampilan komputasi yang terbatas.

      2)     Dasar  

    Murid memiliki keterampilan dasar matematika: komputasi dasar dalam bentuk persamaan langsung, konsep dasar terkait geometri dan statistika, serta menyelesaikan masalah matematika sederhana yang rutin.

      3)    Cakap 

    Murid mampu mengaplikasikan pengetahuan matematika yang dimiliki dalam konteks yang lebih beragam.

      4)     Mahir 

Murid mampu bernalar untuk menyelesaikan masalah kompleks serta nonrutin berdasarkan konsep matematika yang dimilikinya.

Sumber: Pusat Asesmen dan Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Apa itu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)?

 Pada tahun 2021, Kementerian Pendidikan Nasional telah mngganti ujian nasional dengan asesmen nasional.

 

Apa itu asesmen nasional (AN)?

Asesmen nasional atau AN adalah asesmen yang dilakukan untuk pemetaan mutu pendidikan pada semua sekolah, madrasah, serta program kesetaraan jenjang dasar dan menengah.

Asesmen nasional mempunya 3 instrumen penilaian, yaitu:

      1.       Assesmen Kompetensi Minimum

      2.      Survey karakter

      3.      Survey lingkungan belajar

 

Apa itu asesmen kompetensi minimum atau AKM?

Dikutip dari buku AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran dari Pusat Asesmen dan Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat.

Ada dua kompetensi mendasar yang diukur AKM, yaitu

      a.      Literasi membaca

      b.      Literasi matematika (numerasi).

Baik pada literasi membaca maupun numerasi, kompetensi yang dinilai mencakup keterampilan berpikir logis-sistematis, keterampilan bernalar menggunakan konsep dan pengetahuan yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah serta mengolah informasi.

AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh murid menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya.

AKM dimaksudkan untuk mengukur kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten.

Literasi membaca didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia serta untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

Numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia.

 

Tujuan AKM

Dalam pembelajaran terdapat tiga komponen penting, yaitu:

       a.      Kurikulum (apa yang diharapkan akan dicapai),

       b.      Pembelajaran (bagaimana mencapai), dan

       c.       Asesmen (apa yang sudah dicapai).

Asesmen dilakukan untuk mendapatkan informasi mengetahui capaian murid terhadap kompetensi yang diharapkan. Asesmen Kompetensi Minimum dirancang untuk menghasilkan informasi yang memicu perbaikan kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar murid.

Pelaporan hasil AKM dirancang untuk memberikan informasi mengenai tingkat kompetensi murid. Tingkat kompetensi tersebut dapat dimanfaatkan guru berbagai mata pelajaran untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan tingkat capaian murid. Dengan demikian “Teaching at the right level” dapat diterapkan. Pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan tingkat capaian murid akan memudahkan murid menguasai konten atau kompetensi yang diharapkan pada suatu mata pelajaran.

 

Kompenen AKM

Komponen AKM

 



Selanjutnya baca Bagaimana Hasil AKM dilaporkan?

Sumber: Pusat Asesmen dan Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Menulis?

 

Ide atau gagasan sudah punya. Bahan bahan penunjang ide tulisan sudah dikumpulkan. Outline atau garis garis besar penulisan sudah ada. Tapi, ternyata masih enggan untuk menggerakan pena. Masih enggan untuk menggerakkan keyboard computer atau laptop. Dan, masih enggan juga untuk mulai mengembangkan ide atau gagasan menjadi sebuah tulisan atau publikasi ilmiah. Alasannya:

Sibuk

Banyak pekerjaan,

Tidak ada waktu,

Belum ada waktu, atau

Sulit mencari waktu yang tepat untuk menulis.

Menulis memang membutuhkan waktu. Seorang penulis membutuhkan waktu yang tepat untuk dapat dengan lancar dan tanpa hambatan menulis dan mengembangkan ide-idenya. Karena menulis itu membutuhkan ketenangan pikiran. Dan, waktu bagi setiap penulis itu berbeda-beda. Seorang mantan redaktur Jawa Pos pernah mengatakan bahwa menulis di sepertiga malam adalah waktu yang tepat untuk menulis. Menurutnya, menulis di sepertiga malam membuat pikiran dan gagasan meluncur dengan deras sederas air yang mengalir tanpa hambatan. Tapi bagi Andrea Hirata yang pernah ditanya oleh admin www.pembelajar.com tentang saat-saat paling menyenangkan untuk menulis, mengatakan:

“Saya menulis kapan saja di luar jam kerja saya sebagai seorang pegawai BUMN. Saya saat ini bekerja di TELKOM. Dan saya berusaha mendidik diri saya sendiri untuk tidak tergantung pada mood. Saya kadang-kadang beranggapan bahwa mood adalah excuse bagi kemalasan.”

Seorang penulis memang harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya agar bisa berkonsentrasi dan fokus pada penuangan ide atau gagasan. Bagi penulis senior, penulis kawakan, atau penulis yang sudah mempunyai jam terbang tinggi sebagai penulis, mungkin waktu bukan merupakan sebuah hambatan lagi. Karena penulis penulis senior sudah mempunyai ritme menulis yang sudah terjadwal dan terukur. Mirna Rizka di https://mirnarizka.wordpress.com mengatakan:

“Dari artikel yang pernah saya baca, beberapa penulis pernah membeberkan waktu yang tepat bagi mereka untuk menulis. Dee Lestari pernah mengungkapkan bahwa waktu yang tepat untuk menulis baginya adalah setelah tengah malam. Demikian juga dengan Asma Nadia. Ia sering begadang untuk menyelesaikan tulisannya. Dalam twitter-nya, Raditya Dika juga sering mengungkapkan bahwa idenya sering berhamburan justru setelah tengah malam. Baginya, suasana tengah malam yang sepi membuatnya dapat berkonsentrasi untuk membuat tulisan. Ada juga seorang penulis skenario yang mengungkapkan, bahwa dia menganggap menulis adalah pekerjaannya. Jadi, ia memberlakukan jam menulisnya sama dengan jam kerja orang kantoran, dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.”

Jadi, waktu yg tepat untuk menulis bukan merupakan masalah bagi penulis penulis senior atau penulis penulis yang sudah terbiasa menulis dan menghasilkan karya, karena mereka sudah mempunyai jam biologis kapan harus menulis dan menyelesaikan tulisannya. Mereka bias menulis kapan saja.

Jam biologis?

Apa sih jam biologis itu?

Ahmad Salim pada artikelnya yang dimuat di www.masahmad.com mengatakan bahwa jam biologis untuk penulis, yaitu ketika seseorang bersemangat untuk menulis. Maka ketika ditanyakan kapan waktu yang paling baik untuk menulis? Jawabannya tidak ada, kecuali waktu saat seseorang menjadi bersemangat untuk menulis. Penulis perlu mengetahui kapan waktu dia menjadi bersemangat, apakah ketika subuh, siang hari, atau sore hari.

Namun, bagi penulis pemula seperti saya, waktu memang menjadi salah satu hambatan untuk segera menulis dan menuntaskan sebuah tulisan. Akhirnya, alasan-alasan seperti banyak pekerjaan, tidak ada waktu, belum ada waktu, atau sulit mencari waktu yang tepat untuk menulis menjadi masuk akal. Contohnya, proses buku ini memakan waktu yang sangat lama. Bertahun tahun.

Sebetulnya bukan karena tidak ada waktu. Tapi memang sulit mencari waktu yang tepat untuk menulis. Waktu untuk menulisnya masih fluaktif. Tergantung mood. Kadang sore setelah ashar. Kadang setelah sholat isya. Kadang menjelang jam 11 malam. Dan, waktu yang saya suka untuk menulis adalah waktu menjelang jam 11 malam. Karena suasananya tenang. Tidak ada yang menganggu. Saya dapat berkonsentrasi untuk menulis.

Terus, kira-kira kapan waktu yang tepat untuk menulis?

Terserah anda. Anda yang dapat menentukan waktu yang tepat untuk menulis. Ingat! Sehari itu 24 jam. Anda harus kelola waktu tersebut dengan baik. Apabila waktu 24 jam anda sudah penuh aktivitasnya, anda harus periksa kembali. Kira kira aktivitas mana yang menurut anda kurang bermanfaat? Jika ada, ganti kegiatan tersebut dengan kegiatan menulis. Jika tidak ada, anda harus memaksa diri anda untuk menyediakan waktu menulis. Minimal 1 jam sehari. Kapan saja. Terserah. Apakah sebelum sholat subuh, setelah sholat subuh, siang, sore, atau malam menjelang waktu tidur seperti saya? Pokonya, anda harus memaksa diri anda untuk menulis.

Bagi seorang pemula seperti saya, menulislah tiap hari. Kapan saja dan di mana saja. Jadikan menulis itu sebagai rutinitas harian. Ingat! Jangan ada kata excuse. Karena menurut Andrea Hirata, excuse itu bentuk kemalasan.

Apabila anda sudah terbiasa menulis, Insya Allah, anda akan menemukan jam biologis untuk menulis. Dan, ketika anda sudah mempunyai jam biologis untuk menulis, nikmatnya sangat luar biasa. Anda akan betah duduk berlama-lama di depan laptop atau computer. Apalagi ditemani secangkir kopi.  

Tom Clancy, seorang penulis professional yang hanya mengndalkan penghasilan dari menulis, mampu secara konsisten menulis 10 halaman perhari sehingga Tom Clancy mampu menyelesaikan novel setebal 300 halaman dalam 1 bulan. Wow…luar biasa!

(dari berbagai sumber)

Saturday, July 11, 2020

ENAM KUNCI PENTING MENJADI PENULIS PRODUKTIF



Sangat beruntung! Mungkin kata kata itu yang semestinya terucap dari para peserta kelas menulia via WA Grup asuhan blogger Wijaya Kusuma atau yang biasa dipanggil dengan nama Om Jay. Bagaimana tidak? Nara sumber yang selalu dihadirkan pada setiap materi selalu orang-orang yang memang berkelas dan sudah berpengalaman. Seperti pemateri malam ini, Dr. Ngainun Naim. Melihat curriculum vitae nya saja sudah membuat decak kagum. Bagaimana tidak, pria kelahiran Tulungagung, 19 Juli 1975 telah menulis banyak buku dan jurnal. Di bawah ini adalah buku buku yang ditulis oleh Dr. Ngainun Naim, yaitu: 
1.      Islam Radikal dan Deradikalisasi (2020).
2.      Aktualisasi Pemikiran Islam Multikultural (Akademia Pustaka, 2020).
3.      Literasi dari Brunei Darussalam (Akademia Pustaka, 2020).
4.      Spirit Literasi (Akademia Pustaka, 2019).
5.      Teraju (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2017).
6.      Proses Kreatif Penulisan Akademik (Akademika Pustaka, 2017).
7.      Merawat Nusantara (Malang: Genius Media, 2017).
8.      Menipu Setan, Kita Waras di Zaman Edan (Jakarta: Quanta, 2015).
9.      The Power of Reading (Yogyakarta: Aura Pustaka, 2013).
10.  Character Building (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012).
11.  Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi, Cet. IV (Yogyakarta: Arruzz-Media, 2008).
12.  Islam dan Pluralisme Agama (Yogyakarta: Aura Pustaka, 2014).
13.  Self Development: Personal, Sosial, dan Spiritual (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2015).
14.  35 Kompasianer Merajut Indonesia (buku bersama) (Jakarta: Kompas, 2013).
15.  Merajut Kerukunan Antarumat Beragama (Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2012).
16.  Pengantar Studi Islam (Yogyakarta: Gre Publishing, 2011).
17.  Sejarah Pemikiran Hukum Islam (Yogyakarta: Teras, 2009).
18.   “Resiko Menawarkan Pemikiran Liberal”, dalam Ulil Abshar-Abdalla, dkk, Islam Liberal dan Fundamental: Sebuah Pertarungan Wacana (Yogyakarta: eLSaQ, 2003).
19.  Teologi Kerukunan, Mencari Titik Temu dalam Keragaman (Yogyakarta: Teras, 2011).
20.   “Krisis dalam Dunia Pendidikan, Dimensi Kemanusiaan, dan Pengembangan Nalar Spiritual”, dalam Akhyak (ed), Meniti Jalan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003).
21.  Rekonstruksi Pendidikan Nasional, Membangun Paradigma yang Mencerahkan (Yogyakarta: Teras, 2009).
22.  Konservasi Lingkungan Berbasis Tradisi (Tulungagung: STAIN Tulungagung Press, 2011).
23.  Spirit Literasi (Tulungagung: Akademia Pustaka, 2019).
24.  Resolusi Menulis (SPN Grup, 2017).
25.  The Power of Writing (Yogyakarta: Lentera Kreasindo, 2015).
26.  Dan beberapa buku lainnya.

Bukunya banyak kan.
Jadi sangat beruntung dapat kesempatan belajar mengenai “Menulis” bersama Dr. Ngainun Naim. Dan, materi kelas menulis malam ini adalah “Mari Kita Produktif Menulis”. Para peserta kelas menulis asuhan Om Jay dapat belajar banyak bagaimana Dr. Ngainun Naim bisa produktif menulis. Pengalaman-pengalaman yang beliau sampaikan dalam kelas menulis dapat dijadikan pemicu atau trigger untuk terus bersemangat dalam menggoreskan pena atau tuts-tuts keyboard. Mari kita produktif menulis. Blogger keren, Om Jay, selalu bilang: “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” Mau lihat buktinya, menulislah setiap hari!.

Apa sih menulis itu?
Menulis merupakan sebuah kegiatan perekaman sebuah kejadian atau sebuah peristiwa baik berupa realita atau imaji. Perekaman sebuah kejadian atau peristiwa dalam bentuk sebuah tulisan sangat penting untuk perkembangan sebuah peradaban. Sebuah peristiwa atau kejadian yang tidak direkam atau ditulis, maka peristiwa atau kejadian tersebut akan hilang, dan generasi berikutnya tidak bisa menelusuri sebuah peristiwa atau kejadian tersebut. Padahal, boleh jadi, peristiwa tersebut sangat penting bagi keberlangsungan sebuah peradaban
Suyitno (1993:150) seperti yang dimuat di https://www.padamu.net/pengertian-menulis, mengemukakan bahwa menulis merupakan kemampuan mengungkapkan ide, pikiran, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman hidupnya dalam bahasa tulis yang jelas, runtut, ekspresif, enak dibaca, dan dipahami orang lain.

Kemampuan Mengungkapkan Ide, Pikiran, Pengetahuan, Ilmu, dan Pengalaman Hidup
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Menulis apa saja. apa saja! Pikiran yang melintas tiba tiba, pengetahuan, ilmu, atau pengalaman hidup bisa ditulis. Pokoknya tulis! Nggak punya ide! Nah, ini dia. Nggak mungkin! Nggak mungkin manusia sebagai makhluk hidup dan berakal tidak punya ide sama sekali. Pasti punya. Mau bukti? Baca kisah dibawah ini pelan-pelan:
“Alkisah. Pada suatu pagi, ada seorang laki-laki yang sedang duduk termenung seorang diri di halaman belakang rumahnya memegang perutnya. Meringis. Dilihat jam ditangannya. Waktu sudah menunjukan jam 11.45. Jam ditangannya sudah dilirik berkali-kali. Tapi istrinya belum pulang juga dari pengajian. Biasanya, sang istri tercinta sudah di rumah jam 11.00. Perutnya nggak bisa diajak kompromi. Perutnya sudah keroncongan. Tadi pagi baru sarapan bubur. Dokter bilang, jangan telat makan. Ntar maag-nya kambuh.
Laki-laki berperawakan kurus tinggi itu bergegas ke dapur. Dibukanya tudung saji. Masih ga berubah. Kosong. Dibukanya rice cooker. Nasi masih banyak. Dilihatnya brankas dapur, tempat istrinya biasanya menyimpan bumbu dapur, telor, dan sebagainya. Bumbu ada. Bawang ada. Cabe ada. Minyak goreng ada. Tiba-tiba muncul ide.
“Masak nasi goreng”, batin laki-laki itu.
(bersambung)”
Nah, bagaimana setelah membaca kisah di atas. Benar kan? Setiap kita pasti punya ide. Ketika laki-laki itu merasa lapar dan dia melihat bumbu-bumbu dapur, tiba-tiba idenya muncul. Apa idenya? Idenya adalah membuat nasi goreng. Gimana jadinya laki laki dalam kisah di atas jika tidak punya ide ketika perutnya lapar. Mungkin laki-laki tersebut masih merasa lapar sampai istrinya pulang dan memasak.
Itulah ide. Bisa muncul kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Jadi, yakinlah bahwa setiap manusia pasti punya ide. Karena Sang Pencipta telah memberikan manusia akal untuk berfikir. Masalahnya adalah apakah setiap kita punya kemampuan yang sama untuk mengungkapkan ide menjadi sebuah tulisan atau buku. Itulah, mengapa kita sebaiknya mengikuti kelas-kelas menulis seperti kelas menulis asuhan Om Jay atau mengikuti komunitas-komunitas menulis. Salah satu alasan mengikuti kelas menulis atau komunitas menulis adalah supaya kemampuan menulis semakin terasah dan mahir.
Bagi seorang guru, kemampuan menulis adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki. Apalagi guru PNS. Idealnya, kemampuan menulis adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki. Bagaimana tidak? Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) No 16 Tahun 2009 Tanggal 10 November 2009, menyatakan bahwa bagi guru PNS yang akan mengusulkan kenaikan pangkatnya harus memenuhi beberapa kriteria antara lain adalah kredit point yang harus didapat dalam pengembangan diri dan karya tulis. Berdasarkan PermenPANRB No.16 tahun 2009, Bab V Pasal 11 poin C.2 menyatakan bahwa pengembangan keprofesian berkelanjutan, meliputi publikasi Ilmiah yang terdiri dari:
a)      publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal; dan
b)      publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman Guru.
Publikasi ilmiah atas hasil penelitian dan publikasi buku teks tersebut, tentunya, memerlukan kemampuan menulis.
Menurut Dr. Ngainun Naim, guru adalah kunci penting dalam dunia pendidikan. Jika guru berkualitas, besar kemungkinan kelas yang diajarnya juga berkualitas. Tapi jika gurunya kurang berkualitas, tentu hasil pembelajarannya juga kurang sesuai dengan harapan. Salah satu kunci penting peningkatan kualitas guru – menurut penulis buku “The Power of Writing” – adalah dengan membangun budaya literasi. Literasi berarti budaya membaca dan menulis. Menurut Elizabeth Sulzby “1986” sebagaimana dimuat https://sevima.com/pengertian-literasi-menurut-para-ahli-tujuan-manfaat-jenis-dan-prinsip/, literasi ialah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Jika didefinisikan secara singkat, definisi literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca.
Guru sebagai insan profesional wajib membaca buku. Galibnya, kemauan membaca guru sudah tidak perlu diragukan lagi. Karena guru adalah sosok professional. Profesi yang memang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Maka, kemauan membaca menjadi mutlak dimiliki oleh seorang guru baik bagi yang sudah memiliki sertifikat pendidik atau belum. Membaca apa saja. Membaca buku baik bidang yang diampunya maupun bukan, koran dan majalah, informasi informasi yang ada di internet, dan bahkan status status di facebook, twitter, instagram ataupun WA.
Masih menurut Dr. Ngainun Naim, penulis buku “Spirit Literasi”, seorang guru yang mau terus membaca buku dan menulis memiliki peluang untuk semakin meningkat kualitas dirinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak karya yang dihasilkan, maka akan memiliki kontribusi penting bagi kemajuan pendidikan.
Secara tidak langsung, Dr. Ngainun Naim mengatakan bahwa seorang guru harus mempunyai kemampuan menulis. Kemampuan menulis erat kaitannya dengan kemauan membaca. Guru harus bisa menulis dan bahkan wajib menulis. Galibnya, ada atau tidak adanya peraturan, semua guru baik PNS maupun non PNS harus memiliki kemampuan menulis. Jangan katakan tidak memiliki bakat menulis, lalu tidak ingin menulis. Karena menulis itu bisa diasah dan dilatih. Sebagai guru, rasanya belum lengkap, kalau tidak membuat tulisan baik buku maupun artikel ilmiah.
Selanjutnya, bagaimana menjadi guru yang produktif menulis?
Dr. Ngainun Naim menyampaikan tentang “Kunci-kunci penting dalam menulis” supaya guru atau siapa pun menjadi produktif dalam menulis. Kunci itu adalah alat untuk membuka. Alat yang bisa menjadikan guru atau siapa pun produktif dalam menulis. Namun, jika sudah mengetahui kunci-kunci penting dalam menulis tidak digunakan atau dipraktekkan, kunci-kunci tersebut menjadi tidak bermanfaat dan kurang fungsional.
Apa saja kunci-kunci penting dalam menulis?
KUNCI PERTAMA ADALAH MOTIVASI.
Menurut Om.Makplus pada http://www.definisi-pengertian.com/2016/01/pengertian-motivasi-definisi-menurut-ahli.html, secara umum definisi atau pengertian motivasi dapat diartikan sebagai suatu tujuan atau pendorong, dengan tujuan sebenarnya tersebut yang menjadi daya penggerak utama bagi seseorang dalam berupaya dalam mendapatkan atau mencapai apa yang diinginkannya baik itu secara positif ataupun negatif. Adapun istilah dalam pengertian Motivasi berasal dari perkataan Bahasa Inggris yakni motivation. Namun perkataan asalnya adalah motive yang juga telah digunakan dalam Bahasa Melayu yakni kata motif yang berarti tujuan atau segala upaya untuk mendorong seseorang dalam melakukan sesuatu. Secara ringkas, Selain itu, Pengertian Motivasi merupakan suatu perubahan yang terjadi pada diri seseorang yang muncul adanya gejala perasaan, kejiwaan dan emosi sehingga mendorong individu untuk melakukan atau bertindak sesuatu yang disebabkan karena kebutuhan, keinginan dan tujuan.
Menurut Dr. Ngainun Naim, motivasi menulis bisa berupa;
      a)      Motivasi karir.
Bagi seorang guru, apalagi PNS, kemampuan menulis adalah keharusan. Seperti yang sudah ditulis di atas, berdasarkan peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) No 16 Tahun 2009 Tanggal 10 November 2009, menyatakan bahwa bagi guru PNS yang akan mengusulkan kenaikan pangkatnya harus memenuhi beberapa kriteria antara lain adalah kredit point yang harus didapat dalam pengembangan diri dan karya tulis.
      b)      Motivasi materi.
Menulis itu menghasilkan honor. Bagi penulis yang sudah sangat terkenal, honor memang sangat berlimpah. Bukunya terus mengalami cetak ulang. Namun jumlah mereka yang beruntung dari sisi ini tidak terlalu banyak. Sebagian besar penulis justru kurang mendapatkan perhatian dari sisi materi.
      c)      Motivasi politik.
Menulis ditujukan untuk mencapai tujuan politik tertentu.
      d)      Motivasi cinta.
Menulis karena memang mencintai aktivitas menulis.
Pilihlah motivasi-motivasi tersebut. Pilih motivasi yang sangat dominan, yang menggerakan hati dan pikiran untuk mulai menulis. Motivasi di atas masih bisa ditambah. Tentunya, masih banyak motivasi menulis di luar 4 yang sudah disebutkan di atas. Namun perlu diingat bahwa apa pun motivasi yang dipilih maka akan mempengaruhi terhadap tulisan atau buku yang akan dihasilkan.

KUNCI KEDUA ADALAH MEYAKINI BAHWA MENULIS ITU ANUGERAH.
Dr. Ngainun Naim, penulis buku “Resolusi Menulis”, mengatakan bahwa mau dan mampu menulis itu anugerah. Banyak orang yang mau menulis tapi tidak mampu mengerjakannya. Alasannya banyak. bisa karena kesibukan atau sejuta alasan lainnya. Banyak yang sesungguhnya mampu menulis tetapi tidak mau menulis. Karena itulah bisa menulis – bagi penulis buku “The Power of Reading” – adalah  anugerah luar biasa yang harus disyukuri. Cara mensyukurinya adalah dengan terus menulis.
Kita semua pasti bisa menulis. Coba sekarang simak pengalaman menulis yang kita miliki. Jika kita adalah adalah lulusan S1, S2 atau S3 berarti kita sudah menulis ribuan halaman. Ya, ribuan halaman. Kok bisa?.
Bayangkan, saat S-1, setiap semester, kita harus membuat makalah. Paling tidak satu semester harus membuat 10 makalah. 10 halaman dikalikan 10 halaman, berarti kan sudah 100 halaman. Kemudian dikalikan 8 semester. Berarti sudah 800 halaman. Asumsinya 1000 halaman dengan laporan KKN, magang, skripsi.
Jumlah halaman pasti bertambah jika lulus S2. Total halaman yang ditulis jika sampai lulus S2 paling tidak 500 halaman. Apalagi jika sampai lulus doktor. Jumlah halaman yang telah ditulis bisa jadi di atas 2.500 halaman. Sekarang hitung berapa laporan penelitian yang harus kita buat setiap tahun. Berapa laporan pengabdian. Sudah ribuan—sekali lagi ribuan—halaman yang sudah kita tulis.
Jadi, nggak mungkin kalau tidak punya kemampuan untuk menulis. Kita pasti bisa. Arswendo bilang menulis itu gampang. Kalau masih ada yang bilang nggak bisa menulis. Sekarang mari kita urai mengapa kok masih ada yang kesulitan menulis padahal pengalaman menulisnya sudah ribuan halaman. Menurut Dr. Ngainun Naim, ada beberapa kemungkinan, yaitu:
  • Selama kuliah spesial menjadi anggota kelompok yang tidak pernah menulis makalah. Biasanya ini yang spesial membiayai foto kopi. Sekali lagi mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
  • Tidak menulis karena dibuatkan orang lain.
  • Menulis dengan melakukan “kanibal” tulisan orang lain. Misalnya mendapatkan bahan di googe lalu dipotong sana-sini sampai berbentuk layaknya tulisan.
  • Begitu mendapatkan tugas langsung berburu referensi. Tidak berpikir apa yang harus ditulis. Begitu referensi didapatkan segera dibuka, diketik, lalu tutup. Ganti referensi berikutnya, dibuka, diketik, lalu tutup. Tugas penulis biasanya di akhir kutipan: “BERDASARKAN PAPARAN DI ATAS MAKA DAPAT DISIMPULKAN,…”
Menurut Dr. Ngainun Naim, menulis itu membuat kita menjadi berbeda dibandingkan yang lainnya. Sesederhana apa pun buku kita hasilkan itu tetap memiliki kontribusi penting. Jangan dengarkan nyinyiran yang tidak konstruktif. Selama kita terus menulis maka akan menjadikan kita sebagai makhluk yang berbeda dengan yang lainnya.

KUNCI KETIGA ADALAH MENULIS ITU MEMBERIKAN BANYAK “KEAJAIBAN” DALAM HIDUP.
Masih menurut Dr. Ngainun Naim, penulis buku “Proses Kreatif Penulisan Akademik”, menulis itu memberikan banyak sekali manfaat. Wijaya Kusumah atau biasa dipanggil Omjay-- seorang bloger, youtuber dan guru kita semua, mengatakan bahwa menulis setiap hari itu memberikan keajaiban dalam kehidupan. Ingatlah tagline Omjay yang sangat terkenal: “Menulislah tiap hari dan lihat keajaibannya”.
Coba kita simak apa saja bentuk keajaiban yang Omjay rasakan karena menulis.
  1.       Mendapatkan banyak materi. Karena rajin menulis, bukunya mendapatkan banyak royaliti.
  2.       Sering diundang sebagai pembicara di berbagai forum.
  3.       Memiliki banyak teman.
  4.       Bisa membeli peralatan yang dibutuhkan dalam kehidupan.
  5.       Tulisan adalah alat perekam kehidupan yang ajaib.

 KUNCI KEEMPAT: TIDAK MUDAH MENYERAH.
Jangan mudah menyerah. Jangan mudah putus asa. Pantang menyerah. Pantang mundur sebelum buku atau tulisan jadi. Itulah kunci keempat dalam menulis. Jaga semangat. Dan itu benar-benar tidak mudah. Jujur, menjaga semangat untuk tetap menulis itu sulit. Tidah mudah. Banyak godaan. Banyak tikungan. Banyak halte yang memaksa untuk selalu berhenti. Bayangkan saja. Banyak orang ingin menulis, tentu termasuk menulis buku, tetapi semangat menulisnya naik turun. Saat ikut kegiatan kepenulisan, semangat menulisnya berapi-api. Tetapi saat kembali ke dunia nyata, ke dunia kehidupan sehari-hari, semangat menulisnya perlahan-lahan memudar dan akhirnya hilang sama sekali. Saat bersemangat, menulis berlembar-lembar halaman dalam sehari terasa ringan. Saat tidak bersemangat, satu paragraf pun terasa berat sekali. Bahkan sangat mungkin berbulan-bulan tanpa menulis sama sekali. Jadi, jika berkeinginan untuk menjadi penulis, jagalah semangat. Jaga mood dan tidak mudah menyerah.
Menurut Dr. Ngainun Naim, menulis lima paragraf yang dilakukan rutin setiap hari jauh lebih baik daripada sepuluh halaman yang dilakukan tiga bulan sekali.

KUNCI KELIMA: BERJEJARING.
Menurut wikipedia, Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang dijalin dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dll. Dengan kata lain berjejaring adalah bersosialisasi dengan siapa saja. termasuk dengan sesama penulis. Berjejaring dengan komunitas menulis atau komunitas penulis untuk bisa selalu bertukar pikiran supaya wawasan berfikir menjadi bertambah dan luas. Jadi penulis jangan menepi. Menyendiri.  Memang saat sekarang kita harus menepi karena Corona, tetapi bukan berarti tidak berinteraksi. Bangun jejaring kepenulisan. Ikut kegiatan semacam ini juga dalam rangka berjejaring.

KUNCI KEENAM: MENULIS SEBANYAK-BANYAKNYA.
Menulislah setiap hari tanpa henti. Lakukan secara terus-menerus. Jika kita merasa tulisan kita tidak baik maka dengan menulis setiap hari tulisan kita lama lama akan otomatis menjadi baik. Ingat! Bisa karena biasa.
Itulah 6 kunci supaya bisa terus produktif menulis. Ingat pesan Dr. Ngainun Naim:
“jika sudah mengetahui kunci-kunci penting dalam menulis tetapi tidak digunakan atau dipraktekkan, kunci-kunci tersebut menjadi tidak bermanfaat dan kurang fungsional”.
Jadi, mulailah praktek menulis sekarang juga.

Powered by Blogger.

Labels

Blogger templates