Monday, September 28, 2015

Tunjangan Profesi Guru Berubah Nama

Membaca Kompas pagi ini, mata langsung tertuju pada berita kolom yang berjudul "Tunjangan Profesi Guru Berubah Nama Jadi Tunjangan Kinerja". Kompas menulis: Pemerintah selama ini menyelenggaran uji kompetensi guru melalui tes tertulis sebagai bagian dari penilaian kinerja dan kompetensi (PKK). Selain itu juga dilakukan penilaian kinerja guru melalui observasi. Pada tahun 2016, hasil UKG dan PKK akan dijadikan sebagai landasan perbaikan kinerja dan kompetensi guru, yang salah satunya dilakukan lewat pendidikan dan latihan. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sumarna Surapranata, di Jakarta, senin (28/9) mengatakan, guru memperoleh tunjangan profesi guru yang akan diganti namanya menjadi tunjangan kinerja.
Mudah-mudahan hanya diganti namanya, bukan dihapus. Kalau dihapus, maka guru harus mencari penghasilan tambahan misalnya dengan menjadi distributor mesin kangen water untuk mengganti tunjangan profesi yang selama ini sudah diterima. Walau bagaimanapun, banyak guru yang memanfaatkan dana tersebut untuk mengupgrade ilmunya.

Thursday, January 1, 2015

Ujian Nasional Hanya untuk Pemetaan Bukan Penentu Kelulusan

Guru Sejahtera. Membaca berita Kompas pagi ini sungguh sangat melegakan. UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan, tapi digunakan untuk pemetaan.
Sebagaimana diberitakan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengungkapkan, mulai tahun 2015, hasil UN direncanakan sebagai alat pemetaan kondisi pendidikan, bukan sebagai penentu kelulusan.
Mulai tahun 2015, kelulusan siswa ditentukan dari sikap, penilaian akademis, dan psikomotorik atau keterampilan siswa dalam menerapkan hal-hal yang telah dipelajari.

Menurut Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan Zainal A Hasibuan, meskipun tidak lagi sebagai penentu kelulusan, fungsi UN sebagai alat pemetaan tidaklah mengerdil. Pemerintah berkomitmen menggunakan data pemetaan dari hasil Ujian Nasional sebagai sarana untuk menyesuaikan kebijakan pendidikan dengan kebutuhan di tiap wilayah dan sekolah.

Tuesday, May 27, 2014

Mimpi Sejuta Dolar

‘Mimpi Sejuta Dolar’ merupakan judul sebuah buku. Buku yang ditulis oleh Alberthiene Endah tersebut merupakan kisah nyata seorang mahasiswi berkantong pas-pasan hingga bisa meraih penghasilan 1 juta dolar di usia 26 tahun. Wow…pencapaian yang sangat fantastis! Salut! Mahasiswi berkantong pas-pasan itu bernama Merry Riana.

Buku best seller ini sangat layak baca untuk siapa saja, karena buku ini sangat menggugah. Mungkin saya telat membaca buku ini. Baru beberapa minggu ini saya membacanya. Itupun belum tuntas. Walaupun saya belum tuntas membacanya, saya sudah melihat semangat yang dimiliki oleh Merry Riana. Halaman demi halaman buku mengobarkan semangat siapapun yang membacanya untuk terus maju dan bergerak meraih dan menggapai mimpi. Mimpi apa saja, karena titik awal keberhasilan adalah impian.

Hidup itu memang harus punya mimpi. Mimpi itu tidak dilarang. Maka, bermimpilah setinggi-tingginya. Karena mimpi adalah roda penggerak untuk terus maju dan maju, pantang mundur dan bersemangat. Hidup sia-sia bila tidak punya mimpi.


Mimpilah yang membuat Merry Riana bertahan dan terus bersemangat untuk belajar dengan uang 10 dolarnya. Uang 10 dolar seminggu tidak meruntuhkan semangat Merry Riana untuk meraih mimpi. Uang 10 dolar tersebut justru menjadi cambuk bagi Merry Riana untuk meraih mimpi-mimpinya.


Wahai guru…rawatlah mimpi anak-anak didik kita dan berikanlah mereka motivasi motivasi supaya kelak mimpi-mimpi mereka menjadi kenyataan. Amiiin….

Friday, May 9, 2014

How to Get the Best Grades with the Least Amount of Effort?



Don’t study harder, but study smarter! I think study smarter is better than study harder. Students have to know this strategy to get better grades in less time and with less effort.

All students need to master any skill, subject, get better grades on report card, breeze through essay test, and pass multiple choice exams without breaking a sweat.

Don’t worry!