Thursday, February 2, 2017

Wahai Guru, Mulailah Menulis!

Masih bingung mau menulis apa? Pegangan! Lho kok pegangan? Ya, pegangan. Tentunya, kita masih ingat, ketika kita bilang bingung, teman kita selalu mengatakan pegangan saja ke pohon. He…he…saya tidak bercanda! Saya serius, kalau anda bingung mau menulis apa, berpeganglah! Tapi jangan berpegangan pada pohon! Berpeganganlah pada pena atau tuts keyboard komputer! Dan mulailah menulis. Tulislah apa saja yang anda suka. Apa saja yang membuat anda bahagia dan senang, tulislah! Banyak hal menarik yang bisa anda tulis.

Jangan pikirkan tentang teori menulis. Menurut Hatim Gazali di dalam blognya http://gazali.wordpress.com/2007/11/24/catatan-7/, semakin banyak membaca tentang teori menulis, menyusun bahasa maka ia semakin bingung dan terkekang untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Karena itulah, menurut saya; cara menulis yang paling jitu dan cepat adalah tanpa belajar tentang teori menulis. Dengan tidak tahu bagaimana cara menulis, seseorang bisa bebas menuangkan gagasannya sesuka hatinya. Demikan juga Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Penulis? Siapa Takut!” mengatakan, jangan terlalu pusing bicara soal teori menulis. Benar, teori menulis itu memang penting dibaca sebagai pegangan pengetahuan. Kita percaya pula, bahwa yang menulis teori itu adalah para pandai dibidangnya. Tetapi, kalau kita hanya pandai membaca teori, atau memulai kemauan menulis dengan lebih dulu membaca teori, lantas terkungkung dengannya, boleh jadi kita tidak pernah berani memulai memegang pena untuk segera menulis.
Ingat kalimat inspiratif  yang ada dibuku Quantum Writing: Teruslah menulis. Jangan pikirkan tata bahasa, ejaan, atau struktur kalimat.

Jadi, mulailah menulis! Menulis apa saja yang anda suka! Masih bingung juga? Di dalam pikiran kita tentu banyak hal berkecamuk: ada pikiran yang membahagiakan dan ada juga pikiran-pikiran yang menyedihkan. Tulislah! Jangan tunggu pikiran-pikiran itu hengkang dan lenyap dari dalam diri kita!

Ayo, mulailah menulis!
Ersis Warmansya Abbas dalam Ersis Writing Theory mengatakan, “Tulis apa yang ada di pikiran, jangan memikirkan apa yang akan ditulis”

Kemampuan menulis seseorang memang berbeda-beda. Daya ledak dan hentaknyapun berbeda. Ismail Kusmayadi (2011) mengatakan, kemampuan menulis seseorang itu seperti sebuah petasan. Kapan pun bisa disulut. Hanya saja, ketika meledak bunyinya berbeda-beda. Ada yang berbunyi pelan karena kurang amunisi, ada juga yang menggelegar karena amunisinya banyak. Menulis merupakan ledakan pikiran seseorang yang kadar ledakannya bisa berbeda-beda.

Bagaimana supaya amunisi yang dimiliki suaranya menggelegar?
Banyak membaca. Ya, membaca apa saja. Buku, majalah, Koran, dan bahkan status-status yang ada di facebook, twiiter, dan mungkin BBM. Dengan banyak membaca maka kita memiliki banyak informasi yang dapat diolah menjadi ide sebuah tulisan atau buku. Ide buku ini, misalnya, adalah hasil dari membaca buku-buku tentang menulis. M. Fauzil Adhim dalam bukunya yang berjudul “Dunia Kata” berpendapat, sekurang-kurangnya ada tiga hal yang harus dipelajari oleh seorang penulis. Pertama, ilmu-ilmu yang dapat menguatkan jiwa, menajamkan hati, mengasah kepekaan dan membimbing ruhani. Kedua, ilmu yang berkait erat dengan apa yang akan kita tulis. Ketiga, banyaklah belajar ilmu komunikasi, termasuk psikologi komunikasi. 

Berikutnya, banyak mendengar. Ya, mendengar apa saja. Mendengarkan istri, teman, atasan, bawahan, atau siapa saja yang kita temui dalam suatu perjalanan atau di mana saja. Dengan banyak mendengar kita juga memiliki banyak informasi yang dapat diolah menjadi ide sebuah tulisan.

Lalu, apakah dengan banyak membaca dan mendengar saja sudah cukup?
Belum!
Supaya amunisi yang kita miliki bersuara menggelegar, maka kita harus banyak berlatih menulis. Berlatih terus dan terus. Bambang Trim dalam Karier Top sebagai Penulis (2011) mengatakan, niat dan hasrat saja tidak cukup untuk menopang semangat menjadi penulis professional.
Teruslah berlatih dan berlatih!
Idenya bagaimana?

Thursday, December 22, 2016

Kisi-kisi Soal UN 2017 Mulai Disiapkan

Sahabat Guru Sejahtera, pada kesempatan ini admin akan menyampaikan informasi seputar ujian nasional 2017. Pada dasarnya, skema ujian nasional 2017 masih mirip dengan ujian nasional 2016. UN 2017 memperbanyak ujian nasional berbasis komputer. Kisi-kisi soal ujian nasional berikut POS UN 2017 pun mulai disiapkan

Sekretaris Badan Standar Nasional Pendidikan Kiki Yuliati menyatakan, finalisasi penyelenggaraan UN ditetapkan BSNP melalui koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jadwal Penyelenggaraan UN dijadwalkan bulan April untuk jenjang SMA/SMK sederajat. Adapun SMP dijadwalkan bulan Mei. 

Thursday, November 24, 2016

Kemdikbud Mengusulkan Moratorium Ujian Nasional 2017

Berdasarkan laman REPUBLIKA.CO.ID, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengusulkan moratorium ujian nasional (UN) di seluruh Indonesia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di kantor Kemdikbud, Jakarta, Kamis (24/11), mengatakan bahwa moratorium UN sudah tuntas kajiannya dan tinggal nunggu persetujuan presiden.

Mendikbud mempertimbangkan, selama ini fungsi UN hanya sebagai pemetaan, bukan kelulusan. Sehingga, menurutnya tidak perlu dilaksanakan setiap tahun. Mendikbud ingin mengembalikan kebijakan evaluasi murid, menjadi hak dan wewenang guru, baik secara pribadi maupun kolektif.



Namun, Muhadjir mengatakan, pemerintah tetap menerapkan standar nasional kelulusan masing-masing sekolah provinsi, kabupaten, kota. Kebijakan ini juga akan disesuaikan dengan adanya peralihan kewenangan SMA/SMK pada pemerintah provinsi. "Artinya untuk evaluasi nasional, untuk SMA/SMK diserahkan ke provinsi masing-masing. Sedangkan untuk SD dan SMP, kita serahkan ke kabupaten/kota," tutur mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu. Selengkapnya baca Kemdikbud Usulkan Moratorium Ujian Nasional Mulai 2017.

Sunday, November 13, 2016

Ingin Terkenal, Menulislah!

Menulis merupakan sebuah kegiatan perekaman sebuah kejadian atau sebuah peristiwa baik berupa realita atau imaji. Perekaman sebuah kejadian atau peristiwa dalam bentuk sebuah tulisan sangat penting untuk perkembangan sebuah peradaban. Sebuah peristiwa atau kejadian yang tidak direkam atau ditulis, maka peristiwa atau kejadian tersebut akan hilang, dan generasi berikutnya tidak bisa menelusuri sebuah peristiwa atau kejadian tersebut. Padahal, boleh jadi, peristiwa tersebut sangat penting bagi keberlangsungan sebuah peradaban.

Tendi Murti dalam bukunya “Bukan Sekedar Nulis, Pastikan Best Seller”, menulis:

“Menulislah Karena Menulis Berarti Sedang Menuangkan Sejarah”.

Tidak main main! Menulis berarti sedang menuangkan sejarah. Betapa hebatnya orang yang mampu merekam sebuah peristiwa dan menuangkan ide, gagasan, wawasan, pengetahuan ke dalam sebuah tulisan.
Coba bayangkan! Dari mana kita mengetahui peristiwa sebuah sejarah atau peristiwa yang terjadi sebelum kita dilahirkan, apapun peristiwanya, kecuali dari buku buku yang ditulis para penulis.

Misalnya, aksi damai 411 boleh jadi akan hilang dari sejarah Indonesia bila tidak ada seorangpun yang menulis dan merekamnya.

Jadi, menulislah! Siapapun dan apapun profesi anda! Anda ingin terkenal, menulislah! Karena dengan menulis, anda akan dikenal. Kunjana Rahardi dalam bukunya “Menulis Artikel, Opini & Kolom di Media Massa” , menulis:
“Sebagian orang menulis karena ingin dirinya diakui oleh sesamanya, atau mungkin pula diakui oleh lingkungan tempat orang yang bersangkutan berada.”

Saya pun demikian. Saya menulis ini karena saya ingin diakui dan dikenal banyak orang.
Bingung mau menulis apa?

Ga usah bingung apa yang mau ditulis. Tulis aja apapun itu. Rangkai kata demi kata menjadi kalimat-kalimat bermakna. Kemudian rangkai kalimat kalimat menjadi paragraf paragraf yang enak dan mudah dimengerti.

Ketika hendak menulis, ada yang mengatakan: abaikan kaidah kaidah bahasa secara gramatika. Mungkin, hal ini disampaikan, agar hambatan hambatan dalam menulis dapat disingkirkan sehingga seseorang yang hendak menulis mampu menulis seperti air mengalir. Tanpa hambatan.

Menurut Alif Danya Munsyi dalm bukunya “Jadi Penulis? Siapa Takut!”, ada 2 jenis tulisan: fiksi dan non fiksi. Terserah anda mau memilih yang mana.

Yang paling penting, jaga motivasi menulis. Motivasi menulis itu harus terus ditumbuhkan, dikembangkan, dipelihara, diperkuat, supaya bagi mereka yang masih pemula, akan terus berusaha menulis dan terus tetap menulis bagi yang sudah biasa menulis, atau bahkan yang sudah menjadi penulis (Kunjana Rahardi, 2012).

Advertisement